Pengolahan Sampah Perkotaan dengan Teknologi Hidrotermal Pertama di Indonesia

Pengolahan sampah di Indonesia merupakan masalah yang tak kunjung selesai bahkan negara-negara maju sekalipun. Manajemen pemilahan yang buruk menjadikan sampah di Indonesia menjadi semakin sulit untuk dicarikan solusi pengolahan yang efisien dan ramah lingkungan. Seiring perkembangan teknologi dan zaman, pandangan tentang sampah mulai berubah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi yang cukup menjanjikan seperti dijadikan bahan bakar ataupun pupuk. Masalah baru timbul saat pengolahan sampah menjadi pupuk ataupun bahan bakar ini memiliki indikasi yang dapat merusak lingkungan, dan perlu adanya solusi dalam pembentukan energi alternatif yang ramah lingkungan.

Seperti yang kita ketahui, bahan bakar fosil seperti bensin ataupun batu bara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan dunia akan bahan bakar akan terus meningkat sedangkan persediaan yang ada dialam semakin menipis.

Sebagai pengembang yang sangat concern terhadap lingkungan, saat ini Summarecon Serpong telah memiliki fasilitas pengolahan sampah ramah lingkungan yang merupakan implementasi teknologi hidrotermal pertama di Indonesia untuk skala komersial. Teknologi ini pertama kali dikembangkan dan diimplementasikan secara komersial di Indonesia oleh Dr. Eng. Bayu Indrawan, doktor muda Indonesia lulusan Jepang, peneliti dan ahli di bidang pengolahan sampah dan energi terbarukan.

Pada dasarnya pengolahan sampah dengan teknologi hidrotermal ini menggunakan temperatur tertentu dengan tekanan yang tinggi. Dengan menggunakan boiler/mesin uap akan dihasilkan uap bertekanan tinggi dengan temperatur yang cukup tinggi sehingga pengolahan hidrotermal dapat dilakukan. Pengolahan secara hidrotermal cocok di lakukan pada kondisi sampah yang tercampur seperti di Indonesia pada umumnya yang belum secara efektif menerapkan pemilahan sampah secara baik dan benar. Sampah basah maupun kering dapat disatukan dalam prosesnya tanpa menurunkan efektifitas kinerja dari alat ini sendiri.

Ketika sampah tercampur masuk kedalam sistem, diawal proses akan ada pemilahan untuk sampah yang tidak terbakar, seperti kaca dan besi. Hal ini dilakukan karena akan mempengaruhi kualitas produk yang akan dihasilkan setelah proses. Di dalam reaktor hidrotermal, terjadi proses penghancuran dan pemampatan sampah dengan tekanan uap panas yang dihasilkan oleh boiler / mesin ketel uap (suhu diatas 200degC dan tekanan diatas 20 bar).

Produk yang dihasilkan setelah proses di dalam reaktor hidrotermal selama kurang lebih 30 menit, berupa padatan hitam yang apabila setelah dikeringkan memiliki nilai kalori hampir serupa dengan batubara. Secara sederhananya, proses hidrotermal mempersingkat waktu pembentukan batu bara yang pada umumnya ribuan tahun secara natural, dengan bantuan panas dan tekanan tinggi akan menjadikannya hanya dalam waktu yang singkat.

Pengolahan sampah menjadi bahan bakan akan menjadi solusi yang sangat menjanjikan untuk membantu menghasilkan energi untuk kehidupan yang berkelanjutan tanpa mengindahkan keramahan lingkungannya. Hidrotermal sebagai alternatif teknologi untuk mengubah sampah menjadi energi memiliki keunggulan dalam penggunaan bahan baku sampah tercampur tanpa pemilahan yang mana sangat cocok dengan jenis sampah yang ada di Indonesia.

Kontak Kami

Center of Waste Management Indonesia
Waste Treatment Center - Giriloka 1 & 2
Giriloka 1, Blok L, BSD City, Tangerang Selatan
Banten, 15322, Indonesia
  • Telp.: +62-21-29505871 / +62-21-29168714

Subscribe

Silahkan masukan alamat email anda untuk selalu update berita, kegiatan dan aktifitas dari Center of Waste Management Indonesia

Jejaring Sosial